Wednesday, July 02, 2008

volunteer open day

setelah setengah tahun nge-blog tanpa foto, akhirnya ada juga foto yang launch di blog ini.
foto ini diambil tanggal 31 mei 2008, dalam acara open day melbourne university di four seasons hotel, jakarta.

dalam acara itu, ada beberapa alumni yang ditawari untuk jadi volunteer yang bertugas menjelaskan berbagai aspek pendidikan di melbourne uni, berikut suka duka selama jadi student... yah itung2 live model gitu, biar para pengunjung yang datang itu bisa langsung melihat output dari pendidikannya melbourne uni.
dalam acara open day itu, sekaligus juga ajang reuni untukku, dina (berdiri disebelah kananku), madzae (sebelah dina), dan glen (dibelakangku). yang lainnya adalah alumni dari berbagai angkatan yang lebih senior.
walaupun capek seharian berdiri dan menjelaskan berbagai program studi di melbourne uni, tapi senang dong ketemu temen2 lama dan baru plus dapet gretong t-shirt melbourne uni ;).

berita sedihnya, salah satu dari volunteer tersebut, yaitu susika (berdiri, ke-3 dari kanan), mengalami kecelakaan dengan pesawat cassa 212 minggu lalu ketika sedang mengemban tugas dinas. selamat jalan ya mba, semoga arwahmu tenang di alam yang kekal... walaupun baru sekali ketemu pas open day, tapi kebersamaan yang cuma sesaat itu sungguh menyenangkan.

pengunjung dalam acara open day ini mayoritas orang2 yang concern ama pendidikan dan masa depan mereka (dan tentu saja dari golongan orang2 kaya yang ga terpengaruh ama kenaikan harga minyak dunia). bahkan ada sepasang orang tua yang anaknya baru berumur 11 tahun tapi udah mencari2 universitas yang bagus untuk anaknya tersebut. walah, kalo orang miskin penerima bantuan langsung tunai sih boro2 mau nyari uni buat anaknya yang masih 11 tahun, bisa makan tiap hari aja udah syukur.
tapi ya itu deh gambaran kontras di indonesia, kalo yang kaya ya makmur banget, kalo yang miskin ya bener2 nelangsa deh hidupnya.

hikmah sekolah

seusai tugas belajar dan balik lagi ke depok, diiringi kegembiraan yang meluap-luap (hiperbol mode on), aku menghubungi hampir seluruh teman2 lamaku. sekedar basa-basi bertukar kabar atau ada misi khusus untuk beberapa orang yang aku hubungi. seperti misalnya si X yang dari dulu selalu meremehkan kemampuan berfikirku, yang ketika ketemu akhirnya hanya sekedar haha-hihi aja, tanpa memberikan kritik atau sanggahan apapun, seperti yang biasanya dulu dilakukan. ya sudahlah, mengutip kata pembimbing kejiwaanku, ‘mungkin begitulah cara2 orang inferior untuk survive’.

tapi pembicaraanku dengan seorang teman lama yang sudah senior, membuatku harus selalu teringat dengan ilmu padi, yang semakin merunduk ketika ‘isi’nya semakin penuh. setelah bertukar kabar, temanku itu sempat bertanya (so far belum pernah ada yang menanyakan hal ini ke aku), ‘apa sih hikmahnya sekolah lagi buat kamu?’
wah, banyak dong hikmahnya… yang jelas sih mikirnya jadi lebih kritis dan multi dimensional, lebih ekspresif, lebih dekat ama keluarga, dll dll deh, but above all, yang jelas hikmah yang paling mendalam yang bisa diambil adalah… pentingnya teamwork dalam sebuah keluarga untuk mencapai tujuan.
teman seniorku itu menyatakan suka-cita-nya ketika aku mengatakan hal tersebut. mungkin aku masih terlalu muda ya untuk mengerti kenapa temanku itu begitu senang mengetahui kalau aku tidak ‘melupakan’ peran keluarga.
dalam pandangannya, beliau menganggap bahwa aku sedang mengalami proses transformasi untuk menjadi orang yang lebih baik lagi, yaitu perempuan yang selalu menghargai suami and put family before everything.

tapi kalo dipikir2 lebih lanjut, memang benar kok kalo kebahagiaan dalam keluarga itu bisa menentukan keberhasilan kita di luar rumah. seingatku, waktu aku mau melamar beasiswa ke luar negeri dan mufti menyatakan ga mau ikut menemaniku sekolah, maka sekeras apapun usahaku dalam memperoleh beasiswa, hasilnya ga tembus juga. tapi begitu mufti bersedia menemaniku, terlepas dari jurusan/uni/negara apa yang aku pilih, ajaib-nya jalan untuk dapat beasiswa itu ada lho, dengan restu Tuhan tentunya.
jadi kesimpulanku, apapun yang akan aku lakukan, jangan lupa minta persetujuan suami!

8 tahun berlalu

entah kenapa, kok ya aku tiba2 teringat saat pertama ketemu mufti. oh iya, aku ingat! ini pasti karena aku ketemu mufti untuk yang pertama kali tanggal 1 juli, 8 tahun yang lalu. hmm… time is really flying, ternyata udah 8 tahun berlalu sejak pertemuan pertama itu… and look how far we have came!
berawal dari perkenalan di dunia maya (halahhh… sesama temen di bps aja kok ya dibilang kenal di dunia maya… tapi bener lho, kami berdua kenal bukan karena bertemu di suatu acara kantor, tapi karena imel2an terlebih dahulu), berlanjut menggunakan telefon dan sms, baru sebulan setelah perkenalan di dunia maya itu kami bertemu.
tempat ketemunya juga di gambir, yah, secara memang dari dulu aku adalah seorang roker alias rombongan kereta… jadi meeting point-nya ya di stasiun.
kesan pertamanya biasa2 aja, mungkin karena udah sering berkomunikasi, jadi ga berasa terlalu surprise waktu ketemu.

pertemuan itu ga begitu sering berlanjut, karena kesibukan kami masing2. paling ketemu juga sebulan sekali, di kantor juga jarang ketemu. komunikasi, seperti biasa, cukup lewat imel, telfon dan sms aja. intensitas kopi darat-nya rendah sekali.
ketika akhirnya kami memutuskan untuk menikah 11 bulan setelah pertemuan pertama itu, yang kami andalkan (dan menjadi bekal untuk kami) hanyalah keyakinan akan pentingnya komunikasi dalam suatu hubungan.

sekarang, 8 tahun berlalu setelah pertemuan pertama yang kesannya biasa2 aja itu, setiap kali kami berdua naik kereta dan melintasi gambir dan monas, pasti ada celetukan usil tapi romantis ala titanic ‘this is where we first met’… hahaha…