Tuesday, December 23, 2008

Perjalanan ke Pontianak

Idem sama perjalanan ke Padang, journey ke Pontianak-pun (4-6 Desember 2008) sebenarnya bukan pilihan. Pilihanku, pengennya, ke Aceh, Banjarmasin, atau Samarinda gituh... secara punya temen2 jaman kuliah yang bisa diajakin hahahihi bareng.
Mood juga ga bagus-bagus banget.
Tapi, alhamdullillah, Tuhan baikkk banget, He gives me ways to enjoy my journey to Pontianak.

Pertama, temanku dari bagian lain juga mengadakan perjalanan ke Ponti. Ndilalah ada juga 2 orang dari bagian lain (temen kereta juga sih) yang ke Ponti.

Kedua, pas di pesawat, ketemu ama orang BPS Kota Pontianak. Hmm, sepertinya ini cara Tuhan untuk mengirim ‘teman’ supaya aku ga bete ;). Jadinya, pas turun pesawat, aku ga perlu repot2 nyari orang BPS Provinsi Kalimantan Barat yang mau jemput aku. Karena bapak2 dari Kota tadi udah keluar duluan dan ketika aku keluar dari bandara, dia langsung melambaikan tangan ke aku dan memperkenalkan teman2 dari Provinsi (Pak Busri dan Pak Sur).

Ketiga, aku dapet hotel yang nyaman dengan view yang menyejukkan mata.

Keempat, ketika tiba makan malam, orang BPS Provinsi itu menjemputku dengan membawa beberapa teman lain dari BPS HQ yang lagi dinas di Ponti. Alamakjannnn, kalo diitung2, ada sekitar 8 orang HQ yang dinas ke Ponti. Yah, beda2 waktu datang dan pulang sih, tapi seneng aja ketemu orang2 yang udah kukenal sebelumnya.

Kelima, besok paginya, ngantor di BPS Provinsi, ketemu Kepala-nya dulu. Ngobrol2 sebentar. Kebetulan aku pernah baca paper yang beliau buat, jadi beliau merasa senang karena ada yang masih mengingat papernya hehehe... Alhasil, obrolan kami lama2 menjadi informal instead of formal.
Setelah itu, seperti biasa melakukan penyuluhan hukum sampai tiba waktu Jum’tan.

Keenam, pas para pria Jum’atan, aku diajakin salah satu staf wanita disitu untuk jalan2 seputar kantor. Jadilah kami ke Rumah Adat Betang dan Rumah Adat Melayu. Sempat terbesit untuk mengunjungi Museum Provinsi, tapi karena Pak Kepala ngajakin kami makan siang, maka dengan berat hati kami balik ke kantor.

Ketujuh, ternyata aku diajakin makan siang di resto yang terletak di area Museum Provinsi... aduh senangnya... tapinya, kok ya ternyata itu museum tutup kalo abis Jum’atan hiks... Alhasil, aku foto2 aja di sekitar lingkungan museum itu.

Kedelapan, usai urusan di kantor BPS Provinsi, Pak Busri ngajakin untuk mengunjungi Equator Monument atau Monumen Khatulistiwa, sebuah tugu di garis 0 yang membelah bagian dunia utara dan selatan. Satu langkah ke kanan dari garis itu udah di belahan bumi utara dan satu langkah ke kiri udah di belahan bumi selatan.
Tugunya sendiri (yang asli) terbuat dari kayu besi (kayu ulin kalo kata penduduk setempat) yang berada di dalam ruangan, dibuat pas jaman pendudukan Belanda. Untuk melindungi tugu kayu itu dari kerusakan, dibuat juga tugu replikanya tepat diatas atap Monumen Khatulistiwa tersebut. Jadilah ada 2 tugu dalam 1 tempat, yang satu di dalam ruangan, yang satu lagi di luar ruangan.

Kesembilan, capek jalan2 di monumen tersebut, kami pindah lokasi ke Istana Qadriyah yang merupakan kesultanan terbesar di sekitar Pontianak. Pas masuk ke lokasi istana itu, haduuuh... itu kok ya terletak di slum area gitu ya, jalannya kecil plus banyakkk banget rumah2 penduduk di sekitarnya lengkap dengan anak2 kecil yang riang berlari kesana kemari tanpa takut ketabrak mobil.
Istananya sendiri, dari tampak luar cukup menyedihkan dan terkesan tidak terawat. Lantai dan tiang2nya sih kokoh banget, secara pakai kayu ulin gitu lhoooo... tapi dinding fasade-nya ga bisa dibilang mencerminkan kalo kesultanan tersebut pernah mencapai masa kejayaan.
Isi istana adalah benda2 jadul yang dirawat seadanya. Singgasananya juga kecil aja. Biasa banget deh (duh, berasa ga tega kalo misalnya aku bandingkan dengan The Mansion-nya Victoria hehehe...).
Kesepuluh, kami diajakin menengok Masjid Raya yang berada di kompleks Istana tersebut. Walau se-kompleks, tapi cukup jauh juga sih dari Istana. Sayang kunjungannya udah malam, jadinya ga bisa melihat kemegahan bangunan itu dengan jelas.
Akhirnya, sisa waktu dalam perjalanan hari itu dihabiskan di seputaran tempat belanja oleh-oleh dan langsung balik ke hotel.
Keesokan harinya, tibalah waktu pulang!
Mampir lagi ke toko oleh2 yang semalam kami kunjungi, berharap si penjual toko mau menjual miniatur tugu katulistiwa dengan harga murah, tapi ga berhasil hiks... Well, it’s okay lah ya, ga masalah... lagian bawaanku udah berat gara2 belanja setup lidah buaya (asli seger dan enak lho... kirain lidah buaya cuman buat memperindah rambut, ternyata bisa dimakan/diminum juga).
Thanks God for this joyful opportunity on this journey ;).

Perjalanan ke Padang

27-29 November 2008, perjalanan dinas ke Padang.
Dari awal, aku malas pergi perjalanan dinas ke Padang. It doesnt the journey I want to do, it doesnt a city I want to visit either. Tapi ‘jatah’ tetap ‘jatah’, dan aku heran kenapa aku ga diperkenankan untuk mengganti daerah tujuan perjalanan dinasku itu. Bukan sebuah intimidasi sih, tapi keadaan tanpa pilihan dan keharusan untuk melakukan sesuatu membuatku ga mood sama sekali untuk menjalani perjalanan itu. Keharusan untuk pergi ke sini, dengan si itu, dan untuk melakukan ini. Semuanya serba harus, coba apa enaknya kalo gitu... Plus lagi, ’jatah’ itu seharusnya bisa fleksibel karena merupakan kegiatan bagianku, tapi karena pengelolanya –entah lagi kenapa, lagi sensi or lagi kepingin jadi diktator- kok ga mau kooperatif, jadilah aku ’korban’ perjalanan terpaksa... Bukannya aku ga bersyukur, tapi aduuuh... please deh, seharusnya kalo aku dikasih pilihan, maka pasti ceritanya lain.

Walau kekesalanku ini cukup membingungkan suamiku tercinta, karena “lho, kan harusnya seneng bisa ketemu sodara2 mamamu di Padang?”, tapi aku berdalih “lah kan aku mau dinas, bukannya mau visit keluarga…”
Yah, akhirnya walau dengan rasa kesal, aku menjalani perjalanan ini.

Berangkat dengan pesawat Garuda sore hari, sampe di Padang udah Maghrib. Makan sate padang, trus langsung ke hotel, but not a good one. Pagi2 dijemput untuk ’kerja’ di kantor BPS Provinsi Sumatera Barat, melakukan penyuluhan hukum seperti biasa.
Break shalat jumat, trus makan siang soto padang di Hotel Muara (karena yang soto garuda tutup hari jumat) dan sempat mampir ke toko oleh2 khas Padang (sanjai, rendang suwir, etc). Sore dianterin pulang ke hotel.
Malem, dijemput ama Om Edi dan makan malam di Semalam Suntuk, menu tambusu tetap jadi favorit. Usai makan, pergi ke rumah Om Edi dan Andung Elok, family visit, mana rumah mereka lagi kena jatah lampu mati pula... bete banget deh.
Esok paginya, jam 6 udah standby untuk ke bandara, dan alhamdullilah itu Garuda berangkat ontime. Lewat tengah hari, I arrived at home-sweet-home lagi ;).
Yah, begitulah, kalo emang dasarnya hati lagi ga senang, perjalanan yang seharusnya menyenangkan itu berasa hambar...